Hagia Sophia atau yang disebut juga dengan Aya Sofya dalam bahasa Turki, adalah sebuah bangunan bekas gereja kuno, diubah menjadi masjid, dan sekarang dijadikan museum di Istanbul. Pada saat Konstantinopel ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II pada tahun 1453, tempat ini diubah dari gereja menjadi masjid, dan berjalan hingga hampir 500 tahun. Pernak-pernik kristen dicopot dan lukisan-lukisan didinding ditutupi cat. Di tahun 1937 Mustafa Kemal Atatürk seorang perwira militer dan negarawan Turki mengubah status Hagia Sophia menjadi museum. Beberapa bagian dinding dan langit-langit dikerok kembali dari cat-cat kaligrafi hingga ditemukan kembali lukisan-lukisan sakral Kristen. Seperti kita lihat didalam ruangan besar tersebut kita dapat melihat gabungan ornamen Islam dan Kristen tertera bersamaan. Jadi sekarang ini adalah museum, bukan rumah ibadah.
Paduan ornamen-ornamen Islam dan Kristen menghiasa seluruh isi bangunan ini, mulai dari ukiran-ukiran dan lukisan dinding hingga perabotan-perabotan. Tulisan-tulisan Arab untuk Ketuhanan dan Nabi berdampingan dengan simbolik Kristen sang Bunda dan Anaknya yang kudus. Bila kamu memasukin museum ini disediakan panduan turis lokal dimana disana juga disediakan alat penterjemah berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia juga tersedia. Jadi bila kita berada disini kita bisa mengerti sejarah asal muasal Hagia Sophia ini.
Hagia Sophia merupakan bangunan yang masih tersisa terbesar dari arsitektur Bizantium. Dimana desain interiornya banyak dihiasi dengan mosaik dan pilar marmer. Beberapa interior dilapisi dengan kelereng polikrom berwarha hijau, putih, ungu dan mosaik emas. Untuk exterior dibalut dengan plesteran diwarnai dengan kuning dan merah selama restorasi di abad 19.Letak Hagia Sophia tepat berdekatan dan berseberangan dengan Blue Mosque. Bila kamu berada dikawasan ini kamu dapat singgah kedua sekaligus. Dipelataran antara Hagia Sophia dan Blue Mosque banyak pedagang-pedangan kaki lima yang berjualan makanan, minuman dan payung-payung (bila musim hujan). Bila banyak sekali pengunjung wisatawan, maka untuk dapat masuk kedalam Hagia Sophia kita harus antri menunggu giliran. Didalam halaman samping Hagia Sophia juga terdapat cafe dan toko merchandise.
Jangan lewatkan museum Hagia Sophia bila kamu berada di Istanbul Turki, kamu akan melihat peninggalan sejarah yang masih nyata untuk dilihat, dimana kamu dapat melihat paduan kebudayaan Kristen dan Islam menjadi satu. Terlihat aneh tapi hal ini benar-benar ada, saksikan sendiri untuk melihatnya.
Masjid memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan dakwah Islam dan penyebaran syiar-syiar agama Islam. Di sanalah tempat didirikan sholat jama’ah dan berbagai kegiatan kaum muslimin. Seluruh manusia yang membawa perbaikan terhadap umat Islam ini, merupakan produk ‘jebolan pendidikan’ yang berawal mula dari masjid.
Masjid adalah wujud bangunan yang pertama didirikan oleh Nabi, sebelum beliau membuat rumah untuk pribadinya. Hal ini menunjukkan, bahwa masjid menempati posisi yang paling utama dalam agama Islam. Mendirikan masjid lebih penting dari pada membuat bangunan lainnya, karena masjid menjadi pusat pembangunan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan agama.
Masjid adalah bangunan yang istimewa dalam Islam, yang memiliki status hukum melebihi bangunan-bangunan yang lain.
Di antara kelebihan masjid, adalah dapat dijadikannya tempat i’tikaf sebagai ibadah mahdhoh. Kita dapat beribadah hanya dengan diam di dalam masjid dengan niat i’tikaf. Lebih-lebih kalau dalam i’tikaf itu kita membaca ayat-ayat Al-Quran, dzikir, ataupun tafakkur merenungkan kebesaran Allah SWT...
Keutamaan Masjid
Masjid merupakan sebaik-baik tempat di muka bumi ini. Di sanalah tempat peribadatan seorang hamba kepada Allah, memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah semata. Dari sanalah titik pangkal penyebaran tauhid. Allah telah memuliakan masjid-masjid-Nya dengan tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”. (QS. Al Jin: 18)
Tidak ada tempat yang lebih baik dari pada masjid Allah di muka bumi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tempat yang paling dicintai oleh Allah dalam suatu negeri adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam suatu ketika pernah ditanya, “Tempat apakah yang paling baik, dan tempat apakah yang paling buruk?” Beliau mengatakan, “Aku tidak mengetahuinya, dan Aku bertanya kepada Jibril tentang pertanyaan tadi, dia pun tidak mengetahuinya. Dan Aku bertanya kepada Mikail dan diapun menjawab: Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar”. (Shohih Ibnu Hibban)
Menunjukan betapa pentingnya kedudukan masjid di dalam pengembangan agama Islam. Setelah dari Quba Nabi berangkat ke Yastrib, dan di sana juga mengutamakan membangun masjid dari pada membangun pemondokannya. Masjid adalah rumah Allah, di dalam hadits Nabi bersabda, yang artinya : “Masjid itu adalah rumah bagi orang yang bertaqwa”.
Apabila kita betul-betul termasuk orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT, pasti kita senang/betah untuk berhubungan kepada Allah di masjid. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya : “Orang yang betah, orang yang jinak, atau orang yang suka dengan masjid, niscaya Allahpun suka berhubungan dengan dia”. Di samping orang yang hatinya cinta kepada masjid/lekat kepada masjid, dia juga senang beribadah kepada Allah, nanti di akhirat akan mendapat naungan di bawah naungan Arasy Allah SWT, di hari yang tidak ada teduhan, melainkan teduhan Allah SWT.
Di dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya : “Ada tujuh macam orang nanti akan mendapat teduhan, naungan di bawah Arasy ar-Rahman, di hari yang tidak ada teduhan atau naungan melainkan teduhan Allah saja, di saat orang lain kepanasan, namun ada tujuh golongan yang selamat tidak ditimpa oleh panas di padang mahsyar yang begitu terik, salah satu di antaranya adalah seorang laki-laki yang hatinya selalu lekat kepada masjid, ia senang dan suka beribadah kepada Allah SWT”.
Di dalam perkataan Ulama disebutkan “orang yang beriman, yang imannya sejati dia di masjid, bagaikan ikan di air, namun sebalikanya orang yang munafiq, yang lidahnya saja mengaku beriman tapi di bathinnya tidak, berada di masjid bagaikan burung di dalam sangkar”. Sekalipun sangkarnya dari emas, makanannya cukup, minumannya cukup tapi burung itu selalu mencari celah-celah di mana ia bisa keluar Marilah kita kembali kepada tuntunan Nabi Muhammad SAW, kita senang di masjid, barang siapa yang datang ke masjid lalu dia niat ‘itikaf, maka dia akan diampuni dosanya oleh Allah SWT. Marilah kita memohon taufiq kepada Allah SWT, mudah-mudahan semakin tebal iman kita semakin cinta pula kita kepada masjid yang merupakan baitullah (rumah Allah).
Masjid adalah pasar akhirat, tempat bertransaksinya seorang hamba dengan Allah. Di mana Allah telah menawarkan balasan surga dan berbagai kenikmatan di dalamnya bagi mereka yang sukses dalam transaksinya dengan Allah.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Masjid adalah rumah Allah di muka bumi, yang akan menyinari para penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang di langit yang menyinari penduduk bumi”
Orang yang membangun masjid, ikhlas karena mengharap ganjaran dari Allah ta’ala akan mendapatkan ganjaran yang luar biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membangun suatu masjid, ikhlas karena mengharap wajah Allah ta’ala, maka Allah ta’ala akan membangunkan rumah yang semisal di dalam surga.” (Muttafaqun’alaihi)
Masjid dan Dakwah Islam
Dahulu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam hendak berjihad, berperang melawan orang-orang kafir, sebelum beliau menyerang suatu negeri, beliau mencari apakah ada kumandang suara adzan dari negeri tersebut atau tidak. Apabila beliau mendegar adzan maka beliau tidak jadi menyerang, namun bila tidak mendengar maka beliau akan menyerang negeri tersebut. (Muttafaqun ’alaihi)
Hal ini menunjukkan bahwa syiar-syiar agama yang nampak dari masjid-masjid kaum muslimin merupakan pembeda manakah negeri kaum muslimin dan manakah negeri orang-orang kafir. Adanya masjid dan makmurnya masjid tersebut dengan berbagai syiar agama Islam, semisal adzan, sholat jama’ah dan syiar lainnya, merupakan ciri bahwa negeri tersebut begeri kaum muslimin. (‘Imaratul Masajid, Abdul Aziz Abdullah Al Humaidi)
Memakmurkan Masjid
Di antara ibadah yang sangat agung kepada Allah ta’ala adalah memakmurkan masjid Allah, yaitu dengan cara mengisinya dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bentuk memakmurkan masjid bisa pemakmuran secara lahir maupun batin. Secara batin, yaitu memakmurkan masjid dengan sholat jama’ah, tilawah Al-Quran, dzikir yang syar’i, belajar dan mengajarkan ilmu agama, kajian-kajian ilmu dan berbagai ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.
Sedangkan pemakmuran masjid secara lahiriah, adalah menjaga fisik dan bangunan masjid, sehingga terhindar dari kotoran dan gangguan lainnya. Sebagaimana diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Rasulullah pernah memerintahkan manusia untuk mendirikan bangunan masjid di perkampungan, kemudian memerintahkan untuk dibersihkan dan diberi wangi-wangian. (Shohih Ibnu Hibban, Syuaib Al Arnauth mengatakan sanad hadits tersebut shahih sesuai syarat Bukhari)
Sholat Berjama’ah di Masjid
Salah satu syiar agama Islam yang sangat nampak dari adanya masjid Allah, adalah ditegakkannya sholat lima waktu di dalamnya. Ini pun merupakan salah satu cara memakmurkan masjid Allah ta’ala. Syariat Islam telah menjanjikan pahala yang berlipat bagi mereka yang menghadiri sholat jama’ah di masjid. Di sisi lain syariat memberikan ancaman yang sangat keras bagi orang yang berpaling dari seruan sholat berjama’ah.
Suatu ketika, tatkala tiba waktu sholat, Rasulullah berkeinginan meminta seseorang untuk mengimami manusia, kemudian beliau pergi bersama beberapa orang dengan membawa kayu bakar. Beliau berkeinginan membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri sholat jama’ah. Hal ini menunjukkan bahwa sholat jama’ah di masjid adalah wajib, karena ada hukuman bagi mereka yang meninggalkannya.
Rasulullah bersabda, “Shalat seseorang (di masjid dengan berjama’ah) itu dilebihkan dengan 25 derajat dari shalat yang dikerjakan di rumah dan di pasar. Sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu mendatangi masjid, tak ada keinginan yang lain kecuali untuk shalat, maka tidaklah ia melangkah dengan satu langkah pun kecuali Allah mengangkatnya satu derajat, dan terhapus darinya satu kesalahan…”(Muttafaqun ‘alaihi, dari shahabat Abu Hurairah)
‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan, “Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah kelak dalam keadaan muslim, maka hendaklah dia menjaga sholat lima waktu tatkala dia diseru (dengan adzan). Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan sebuah sunnah yang agung, dan sholat berjamaah adalah diantara sunnah tersebut. Seandainya kalian sholat di rumah-rumah kalian, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang belakangan, maka sungguh kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, maka sungguh kalian telah berada dalam kesesatan.” (HR. Muslim)
Setelah nampak di hadapan kita kabar tentang pahala bagi orang yang menghadiri sholat jama’ah di masjid, dan ancaman bagi orang yang tidak menghadirinya, lantas masih adakah rasa berat di dalam hati kita untuk melangkah memenuhi seruan adzan? Allahul Muwaffiq.
Keutamaan Orang-orang yang Perhatian terhadap Masjid
Rasulullah pernah bersabda, bahwa kelak di hari kiamat ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan pertolongan dari Allah ta’ala. Salah seorang di antaranya adalah para pecinta masjid. “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah, tatkala tidak ada naungan selain naungan-Nya… Seseorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid…” (Muttafaqun ‘alaihi).
Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan makna hadits tersebut, “Hadits ini menunjukkan bahwa orang tersebut hatinya senantiasa terkait dengan masjid meskipun jasadnya terpisah darinya. Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa keterkaitan hati seseorang dengan masjid, disebabkan saking cintanya dirinya dengan masjid Allah ta’ala”. (Lihat Fathul Bari)
Lalai dengan Pemakmuran Masjid
Banyak di antara kaum muslimin, sangat semangat dalam mendirikan dan membangun masjid. Mereka berlomba-lomba menyumbangkan banyak harta untuk mendirikan bangunan masjid di berbagai tempat, setelah masjid berdiri pun tidak lupa untuk menghiasnya dengan hiasan yang bermegah-megahan. Namun setelah bangunan beserta hiasan berdiri tegak, justru mereka tidak memanfaatkan masjid tersebut untuk solat jama’ah dan ibadah lainnya. Mereka sangka sumbang sih mereka dengan harta dan modal dunia tersebut sudah mencukupinya.
Saudaraku, memakmurkan masjid tidak semata-mata makmur secara fisik, memakmurkan masjid yang hakiki adalah dengan ketaatan kepada Allah, yaitu dengan sholat jama’ah, tilawah Al quran, pengajian-pengajian ilmiah dan lain sebagainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan bahwa hal yang demikian merupakan salah satu tanda datangnya hari kiamat, “Tidaklah tegak hari kiamat sampai ada manusia yang bermegah-megahan dalam membangun masjid” (HR. Abu Dawud, dinilai shohih oleh Syaikh Al Albani)
Imam Al Bukhari rahimahullahu berkata dalam kitab shahihnya, Anas berkata, “Orang-orang bermegah-megahan dalam membangun masjid, mereka tidak memakmurkan masjid tersebut melainkan hanya sedikit. Maka yang dimaksud dengan bermegah-megahan ialah bersungguh-sungguh dalam memperindah dan menghiasinya”.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata , “Sungguh kalian akan memperindah dan menghiasi masjid sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani memperindah dan menghiasi tempat ibadah mereka”. (HR. Bukhari, Kitab Ash-Shalah, Bab Bunyanil Masajid)
Back to basic...!!!
Terlampau banyak penjelasan yang memaparkan keutamaan masjid sebagai benteng utama kekuatan kaum muslimin. Telah terbukti secara nash dan realita. Perjalanan hidup para pendahulu kita telah membuktikannya. Bukankah seluruh para ulama yang membawa perbaikan terhadap agama Islam adalah para pecinta masjid. Imam Malik rahimahullahu mengatakan, “Tidak akan pernah baik generasi akhir umat ini kecuali dengan perkara-perkara yang dengannya telah menjadi baik generasi awal umat Islam (yaitu generasi sahabat)”
Maka apabila kita menghendaki kejayaan dan kemenangan kaum muslimin, maka hendaklah kita menempuh jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum, yang mereka senantiasa perhatian terhadap masjid-masjid mereka, memakmurkan masjid-masjid Allah dengan ketaatan kepada-Nya. Mulialah dari masjid kita membangun umat ini...
Rasanya namanya sudah tidak asing lagi di kalangan mahasiswa Indonesia, Masjid Salman ITB. Masjid yang berlokasi di Jl. Ganesa no.7, ternyata merupakan masjid kampus pertama di Indonesia. Dengan ciri khas bangunan masjid ini adalah tanpa kubah masjid dan tiang di ruang utamanya. Siapakah arsitek yang berada di balik perancangan masjid ini?
BERBAGAI masjid telah dibangunnya, berjuta umat menikmati kekhusyukan menghadap Ilahi di dalamnya, namun kakek tujuh cucu dan ayah empat anak ini seperti tak kenal pensiun. Di usia 79, kesibukan Prof. Achmad Noe'man masih juga di sekitar masjid. "Tapi sekarang saya lebih senang membuat kaligrafi untuk ornamen masjid," kata kolektor berat piringan hitam musik jazz itu.
Sejak 1948, Noe’man aktif berdiskusi dengan kakaknya -Dekan Fakultas Teknik ITB- (alm) tentang pentingnya keberadaan masjid di kampus. Sulitnya ketika hendak menunaikan sholat wajib apalagi sholat jum’at, terlebih saat itu di ITB masih banyak orang Belanda bahkan rektornya juga seorang Belanda.
Untuk mewujudkan rencana pembangunan masjid kampus, tahun 1958 dibentuklah panitia dengan Prof. T.M. Soelaiman sebagai ketua dan Noe’man ditunjuk sebagai arsiteknya. Rancangan selesai, panitia mengajukannya ke Rektorat namun ditolak.
Seorang murid Noe’man mengusulkan untuk bertemu Presiden Soekarno melalui pamannya, seorang komandan di Cakrabirawa. Empat orang ; Soelaiman, Noe’man, Ahmad Sadali dan Ajat Sudrajat- ke Jakarta menemui Presiden Soekarno di Istana Negara. Diskusi terjadi cukup alot yang berakhir dengan dukungan Presiden Soekarno dengan membubuhkan tanda tangan beliau pada gambar rancangan. Presiden Soekarno jugalah yang memberi nama “Salman”, Salman Al-Farizi ; karena terinspirasi arsitek perang yang ulung pada zaman Nabi Muhammad saw. Bahkan beliau bersedia menjadi pelindung pembangunan masjid Salman. Setelah itu rektor pun menyetujuinya demikian juga dengan walikota Bandung. Setelah itu dimulailah pembangunan masjid Salman.
Salman adalah teknokrat Iran yang menggagas pembuatan saluran (parit) untuk mempertahankan Madinah saat Perang Khandak.
Ia sering diajak Haji Djamhari membangun masjid. "Karena itu, saya bercita-cita menjadi arsitek," ujarnya. Noe'man mengambil jurusan arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (pada 1963 berubah menjadi Institut Teknologi Bandung). Sebelum gelar insinyur ia sandang, pada 1958 Noe'man telah menyumbang keahliannya buat sang ayah. Masjid Muhammadiyah Garut merupakan buah karya Noe'man yang pertama.
Namun karya fenomenal pertamanya adalah Masjid Salman, ITB. Tak lama setelah meraih gelar insinyur, Noe'man menjadi asisten Prof. Van Roemondt, dosen arsitektur Islam di kampusnya. Saat itu, masjid masih jarang di sekitar Jalan Ganesha. Karena itu, untuk salat Jumat, Noe'man biasanya bertandang ke Masjid Cipaganti, atau sekitar 2 kilometer dari tempatnya mengajar. Ketika muncul gagasan membangun masjid di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Noe'man-lah yang kebagian tugas mengarsiteki.
Salman didirikan di lahan bekas kebun tak lebih satu dari hektare, persis di seberang kampus. Mulai dibangun pada 1964. Dan butuh waktu delapan tahun hingga resmi dibuka oleh Rektor ITB Prof. Dr. Doddy Tisna Amidjaja, pada 5 Mei 1972. "Sebetulnya sampai sekarang pun Masjid Salman belum selesai, masih terus dilakukan pembangunan secara bertahap," kata Noe'man. Masjid berukuran 35 x 35 meter ini terbuat dari konstruksi beton, satu lantai. Hanya di bagian belakang ada mezanin (lantai) untuk salat wanita atau pengajian.
Dan seperti direncanakan, tak tampak kubah di sana. Malah atap masjid seperti dua tangan raksasa yang sedang berdoa membuka ke langit. Satu-satunya ciri rumah ibadah kaum muslim itu hanyalah menara yang menjulang tinggi. Masjid Salman, menurut Noe'man, boleh dibilang tanpa ornamen. Sangat polos. ''Saya ingin manfaat sesuai fungsi, harus adil, dan proporsional. Tulisan-tulisan tanpa guna dihindari,'' Noe'man menambahkan.
Mimbarnya pun sangat sederhana, hanya tiang lurus yang tingginya sedada orang dewasa, ditambah meja datar untuk tempat catatan khatib saat khutbah yang terbuat dari kayu jati. Untuk menuju mimbar, ada tiga titian. Namun kesederhanaan itu mengantarkan Noe'man mendapat penghargaan arsitektur bergengsi, Aga Khan Award. Namanya pun tercantum dalam buku The Mosque, yang terbit seiring dengan penganugerahan itu.
Di situlah Noe'man muda menunjukkan gaya arsitektur nyeleneh. Masjid tanpa kubah dan tanpa tiang penyangga. Padahal, saat itu kubah seolah sebuah keharusan untuk sebuah masjid besar. Rasanya, tanpa kubah tidak sempurnalah bangunan sebuah masjid. Lalu, kenapa tanpa kubah? ''Saya mengambil 'api'-nya Islam,'' kata Noe'man.
Mendesain masjid kini ia serahkan pada Biro Arsitektur Achmad Noe'man (Birano), yang didirikannya hampir setengah abad silam. Birano dipegang oleh anak ketiganya, Fauzan Noe'man, arsitek lulusan Rhode Island School of Design. Noe'man mewariskan kecintaan pada rumah Allah itu kepada empat anaknya, seperti ia terima warisan itu dari ayahnya: H.M. Djamhari, saudagar batik dan tokoh Muhammadiyah Garut, Jawa Barat.
Setelah menyimak Al-Quran dan hadis, Noe'man mengaku tidak menemukan ketentuan khusus mengenai kubah dan tiang masjid. Petunjuk yang rinci hanyalah ihwal salat. Dia lalu merujuk sabda Rasulullah Muhammad SAW yang artinya, "Salatlah kamu seperti salatku." Dalam salat berjamaah, misalnya, imam harus punya tempat tersendiri di depan. Sementara jamaah berdiri tertib bersaf-saf di belakangnya.
Keteraturan seperti ini tentu memerlukan ruangan yang lapang, lega, tanpa kehadiran "sosok" lain yang bisa menghalangi ketersambungan saf. Karena itulah, ia berijtihad, tiang di dalam masjid sebisa mungkin dihilangkan.
Kubah masjid, lanjutnya, bukan identitas masjid. Struktur atap menggelembung, konstruksi gaya arsitektur Bizantium, ini memang bisa dilihat pada Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki, yang terkenal dengan kubah birunya. Namun Aya Sofia tadinya berfungsi sebagai gereja. Gedung Capitol di Washington, Amerika Serikat, bahkan Kremlin di Moskow, berkubah.
Sekitar tahun 1975, Jenderal Muhammad Yusuf, tokoh karismatis dari Sulawesi Selatan, meminta Noe'man membangun Masjid Al-Markazi di Makassar. Al-Markazi juga dibangun tanpa kubah. "Tapi atapnya merupakan 'atap susun', selain untuk menarik perhatian, juga supaya cahaya masuk," kata Noe'man. Masjid yang megah ini dibangun satu lantai, dan ada mezanin di belakang. Mirip Salman. Bedanya, di keempat pojok bangunan masjid terdapat tiang. Pada tiang bagian depan terdapat tangga sebanyak 85 titian. Al-Markazi pun mendapat Aga Khan Award.
Setelah membuat Masjid Salman dan Masjid Al-Markazi, Achmad Noe'man sempat dicap sebagai arsitek "anti-kubah". Sekitar tahun 1980-an, Noe'man membuat masjid berkubah, yaitu At-Tin di TMII, Jakarta. At-Tin dibangun seefisien mungkin. Pembangunan kubah menggunakan teknologi struktur baru, yaitu "space frame", konstruksi yang dibuat dari batang-batang baja, sehingga ringan, kuat, dan gampang dalam pembangunannya. ''Di sini saya memberi kesempatan bagi yang mendambakan kubah,'' ujar Achmad Noe'man. Kebalikan dari Salman, masjid berukuran 60 x 60 meter itu dibuat penuh ornamen.
Mimbarnya terbuat dari kayu berukir, yang dilengkapi tangga dari beton. Bagian atap masjid yang bentuknya dome (kubah) dihiasi kaca patri berwarna. ''Kalau melihat ke langit-langit masjid pada siang hari, sinar matahari masuk, dan terjadilah permainan cahaya yang sangat mengasyikkan," katanya. Pada malam hari, "Sinar lampu yang keluar menyinari kaca patri, sehingga menghasilkan cahaya yang indah,'' Noe'man menambahkan. Memasukkan ornamen kaca patri dalam Masjid At-Tin diilhami oleh surat An-Nur, tentang cahaya. Surat ini dikupas oleh banyak sastrawan karena keindahannya.
Salah satu aturan Allah yang menjadi perhatian Noe’man adalah QS. Al-Isra` [17] : 27. ”Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya“. Beliau berupaya agar dalam pembangunan masjid tidak terjadi pemborosan. Beliau juga menyatakan ketidaksetujuannya pada masjid yang terlalu mewah. Akan lebih bermanfaat uang untuk “berhias” itu digunakan untuk keperluan lain.
Achmad Noe’man juga memegang prinsip aqidah Islam dalam membangun masjid. Ketika ada sebuah masjid yang memaksakan dibangun dengan menanam kepala kerbau, Noe’man kemudian memilih mundur, meskipun masjid itu dibangun oleh petinggi negara. Ada satu masjid terkenal di Jakarta, yang Noe’man harus mendatangi sejumlah pejabat dan tokoh Islam untuk meminta pendapat mereka tentang penanaman kepala kerbau. Alhamdulillah, rencana penanaman kepala kerbau itu dibatalkan.
SEJARAH BERDIRINYA
Masjid Tertua di INDONESIA
Unknown
11.20.00
New Google SEO
Bandung, IndonesiaMasjid Tertua di INDONESIA
Seperti halnya sejumlah wilayah lain di Indonesia yang menyimpan sejarah peradaban agama-agama dunia, Provinsi Seribu Pulau, Maluku juga menyimpan peninggalan sejarah Islam yang masih ada dan tidak lekat dimakan zaman. Di utara Pulau Ambon, tepatnya di Negeri (desa) Kaitetu Kecamatan, Leihitu Kabupaten, Maluku Tengah, berdiri Masjid Tua Wapauwe.
Islam masuk ke Indonesia melalui para pedagang dari Gujarat, India sekitar abad ke-13 M. Ketika Islam masuk ke Indonesia perdagangan rempah-rempah masih didominasi oleh Cina dan Arab. Para pedagang ini merajai jalur perdagangan yang penting seperti pesisir Sumatra, semenanjung Malaya, Jawa, dan Maluku.
Di Indonesia bagian timur, Islam mampir lebih dulu ke Maluku sebelum menyebar ke Makassar dan wilayah lainnya di Pulau Sulawesi. Ketika Portugis datang ke kepulauan itu pada 1512 M, Islam telah tersebar di Maluku. Raja Ternate, salah satu kerajaan terbesar di Maluku, Bayang Ullah telah memeluk Islam.
Diperkirakan, Islam mulai bersemi di Maluku pada tahun 1400-an. Hal ini dibuktikan dengan sebuah masjid yang berdiri selama tujuh abad di Pulau Ambon. Masjid yang terletak di kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah ini merupakan satu bukti sejarah yang menandai perkembangan Islam di Provinsi Seribu Pulau tersebut.
Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Perdana Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Jamilu adalah seorang penyiar agama Islam, beliau datang ke Maluku bersama empat perdana lainnya dan tugasnya untuk menyiarkan agama Islam di Maluku ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk menyebarkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.
Periode kedatangan Empat Perdana Hitu :::
Pendatang Pertama adalah Pattisilang Binaur dari Gunung Binaya (Seram Barat) kemudian ke Nunusaku dari Nunusaku ke Tanah Hitu, tahun kedatangannya tidak tertulis. Mereka mendiami suatu tempat yang bernama Bukit Paunusa, kemudian mendirikan negerinya bernama Soupele dengan marganya Tomu Totohatu. Patisilang Binaur disebut juga Perdana Totohatu atau Perdana Jaman Jadi.
Pendatang Kedua adalah Kyai Daud dan Kyai Turi disebut juga Pattikawa dan Pattituri dengan saudara perempuannya bernama Nyai Mas.
- Menurut silsilah Turunan Raja Hitu Lama bahwa Pattikawa, Pattituri dan Nyai Mas adalah anak dari : Muhammad Taha Bin Baina Mala Mala bin Baina Urati Bin Saidina Zainal Abidin Baina Yasirullah Bin Muhammad An Naqib, yang nasabnya dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah . Sedangkan Ibu mereka adalah asal dari keluarga Raja Mataram Islam yang tinggal di Kerajaan Tuban dan mereka di besarkan disana (menurut Imam Lamhitu salah satu pencatat kedatangan Empat perdana Hitu dengan aksara Arab Melayu 1689), Imam Rijali (1646) dalam Hikayat Tanah Hitu menyebutkan mereka orang Jawa, yang datang bersema perlengkapan dan hulubalangnya yang bernama Tubanbessi, artinya orang kuat atau orang perkasa dari Tuban. Adapun kedatangan mereka ke Tanah Hitu hendak mencari tempat tinggal leluhurnya yang jauh sebelum ke tiga perdana itu datang. Ia ke Tanah Hitu yaitu pada Abad ke X masehi, dengan nama Saidina Zainal Abidin Baina Yasirullah (Yasirullah Artinya Rahasia Allah) yang menurut cerita turun temurun Raja Hitu Lama bahwa beliau ini tinggal di Mekah, dan melakukan perjalan rahasia mencari tempat tinggal untuk anak cucunya kelak kemudian hari, maka dengan kehendak Allah Ta'ala beliau singgah di suatu tempat yang sekarang bernama Negeri Hitu tepatnya di Haita Huseka'a (Labuhan Huseka'a).
- Disana mereka temukan Keramat atau Kuburan beliau, tempatnya diatas batu karang. Tempat itu bernama Hatu Kursi atau Batu kadera (Sekitar 1 Km dari Negeri Hitu). Peristiwa kedatangan beliau tidak ada yang mencatat, hanya berdasarkan cerita turun - temurun.
- Perdana Tanah Hitu Tiba di Tanah Hitu yaitu di Haita Huseka'a (Labuhan Huseka'a) pada tahun 1440 pada malam hari, dalam bahasa Hitu Kuno disebut Hasamete artinya hitam gelap gulita sesuai warna alam pada malam hari.
- Mereka tinggal disuatu tempat yang diberi nama sama dengan asal Ibu mereka yaitu Tuban / Ama Tupan (Negeri Tuban) yakni Dusun Ama Tupan / Aman Tupan sekarang sekitar lima ratus meter di belakang Negeri Hitu, kemudian mendirikan negerinya di Pesisir Pantai yang bernama Wapaliti di Muara Sungai Wai Paliti.
- Perdana Pattikawa disebut juga Perdana Tanah Hitu atau Perdana Mulai artinya orang yang pertama mendirikan negerinya di Pesisir pantai, nama negara tersebut menjadi nama soa atau Ruma Tau yaitu Wapaliti dengan marganya Pelu.
Kemudian datang lagi Jamilu dari Pemerintah Jailolo. Tiba di Tanah Hitu pada Tahun 1465 pada waktu Magrib dalam bahasa Hitu Kuno disebut Kasumba Muda atau warna merah (warna bunga) sesuai dengan corak warna langit waktu magrib. Mendirikan negerinya bernama Laten, kemudian nama negara tersebut menjadi nama marganya yaitu Lating. Jamilu disebut juga Perdana Jamilu atau Perdana Nustapi, Nustapi artinya Perdamaian, karena dia dapat mendamaikan permusuhan antara Perdana Tanah Hitu dengan Perdana Totohatu, kata Nustapi asal kata dari Nusatau, dia juga digelari Kapitan Hitu I.
Sebagai Pendatang terakhir adalah Kie Patti dari Gorom (P. Seram bagian Timur) tiba di Tanah Hitu pada tahun 1468 yaitu pada waktu asar (Waktu Salat) sore hari dalam bahasa Hitu kuno disebut Halo Pa'u artinya Kuning sesuai corak warna langit pada waktu Ashar (waktu salat).
Mendirikan negerinya bernama Olong, nama negara tersebut menjadi marganya yaitu marga Olong. Kie Patti disebut juga Perdana Pattituban, kerena beliau pernah diutus ke Tuban untuk memastikan sistim pemerintahan disana yang akan menjadi dasar pemerintahan di Kerajaan Tanah Hitu.
Masjid Wapauwe berada di daerah yang mengandung banyak peninggalan purbakala. Sekitar 150 meter dari masjid ke arah utara, di tepi jalan raya terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda yang telah hancur akibat konflik agama yang meletus di Ambon pada tahun 1999 lalu. Selain itu, 50 meter dari gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah benteng tua "New Amsterdam". Benteng peninggalan Belanda yang mulanya adalah loji Portugis ini, terletak di bibir pantai ini dan menjadi saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).
Semua peninggalan sejarah tadi menjadi pusaka Marga Hatuwe yang tersimpan di rumah pusaka Hatuwe, yang berjarak 50 m dari Masjid Wapauwe. Rumah pusaka ini dijaga oleh keturunan ke-12 Imam Muhammad Arikulapessy, Abdul Rachim Hatuwe.
Masjid yang masih dipertahankan bentuk aslinya itu berdiri di atas tanah yang disebut Teon Samaiha oleh warga setempat. Letaknya di antara permukiman penduduk Kaitetu dan bentuknya sangat sederhana. Arsitekturnya sangat unik dan bersifat elementer. Masjid ini dibangun tanpa paku yang menyatukan setiap bagian-bagiannya sehingga dapat dibongkar-pasang. Untuk menyambungkan setiap bagian bangunan, perancangnya hanya menggunakan pasak kayu. Konstruksi ini memungkinkan masjid dapat dipindah-pindahkan.
Bentuk masjid ini seperti bujur sangkar dengan ukuran hanya 10 x 10 meter. Ketika pertama kali didirikan masjid ini tidak memiliki serambi. Dalam renovasi dilakukan penambahan serambi yang memiliki ukuran 6,35 x 4,75 m. Dinding masjid ini dibuat dari gaba-gaba, yaitu pelepah sagu yang dikeringkan. Pada renovasi setengah dinding dibuat dengan campuran kapur.
Mihrab masjidnya berukuran 2x2 meter seperti umumnya masjid di Jawa dan Bali. Mimbar masjid terbuat dari kayu yang bentuknya seperti kursi. Ukurannya cukup tinggi sehingga mimbar ditambahi anak tangga. Pada bagian atasnya dihiasi lengkungan dan ukiran kayu. Bedug terbuat dari gelondongan kayu utuh dengan diameter 2 m. Bedung diikat dengan rota dan digantung pada balok di atasnya.
Pada bagian dalamnya terdapat ciri khas bangunan joglo, yaitu saka guru. Saka guru adalah empat pilar yang terletak di tengah bangunan tradisional Jawa. Atapnya juga dipengaruhi oleh bangunan Jawa, yaitu berupa atap tajug bertingkat. Saka guru menggunakan kayu dengan ukuran 22 x 22 cm persegi. Di atas saka guru terdapat atap piramida dengan kemiringan yang cukup tajam, lalu diikuti di bawahnya dengan atap yang kemiringannya landai, persis seperti atap bangunan tradisional Jawa. Atapnya dibuat dari daun rumbia. Puncak menara terbuat dari kayu yang berbentuk silindris dengan alur-alur dan molding.
Di antara atap di atas dan atap yang di bawah terdapat lubang jendela yang berfungsi sebagai ventilasi udara. Bagian paling bawah atapnya menjorok ke luar dan membentuk sebagian dari elips seperti daun. Di setiap ujungnya terdapat ukiran bertuliskan kata ‘’Allah’’ dan ‘’Muhammad’’.
Di dalam masjid ini tersimpan mushaf Alquran yang diperkirakan menjadi mushaf tertua di Indonesia. Mushaf tersebut adalah ditulis tangan oleh Imam Muhammad Arikulapessy dan selesai pada 1550. Mushaf ini ditulis tanpa iluminasi. Di masjid ini juga terdapat Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada 1590 tanpa iluminasi dan ditulis tangan pada kertas Eropa. Mushaf kedua ini ditulis oleh cucu Imam Arikulapessy.
Karya Nur Cahya lain yang terdapat di masjid tersebut adalah Kitab Barzanzi, yaitu syair pujian kepada Rasulullah SAW; sekumpulan naskah khotbah seperti naskah khotbah Jumat pertama Ramadhan 1661, kalender Islam tahun 1407 M, dan manuskrip Islam lain yang sudah berumur ratusan tahun.
Karena kedatangan Belanda ke tanah itu pada 1580, membuat masjid Wapauwe sempat mengalami perpindahan tempat. Sebelum pecahnya Perang Wawani Belanda sudah mengganggu kenyamanan penduduk di lima kampung di kecamatan tersebut dalam beribadah. Karena fleksibilitasnya masjid ini dipindahkan ke Kampung Tehala yang terletak 6 km di timur Wawane pada 1614.
Ketika masjid tersebut dipindahkan ke Kampung Tehala, bangunan itu direkonstruksi di sebuah tempat yang banyak ditumbuhi pohon mangga hutan (mangga berabu), yang dalam bahasa Kaitetu disebut dengan wapa. Dan jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satupun daun yang jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan dimana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.
Pada 1646, Belanda menguasai seluruh Tanah Hitu. Belanda kemudian melakukan penurunan penduduk dari daerah pegunungan, termasuk lima kampung di wilayah Wawane. Pada 1664 ditetapkanlah berdirinya Negeri Kaitetu.
Masjid Wapauwe mengalami renovasi beberapa kali. Pertama kali masjid ini direnovasi oleh pendirinya, Jamilu pada tahun 1464 tanpa mengubah bentuk aslinya. Meskipun mengalami dua kali pemindahan, bangunan asli tetap dipertahankan. Renovasi kedua dilakukan pada abad ke-19 M dengan penambahan seambi depan di bagian timur masjid.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, masjid ini mengalami perbaikan besar-besaran. Yang pertama terjadi pada Desember 1990 hingga Januari 1991 dengan mengganti 12 tiang kolom penunjang dan balok penopang atap.
Pada 1993 dilakukan renovasi dengan mengganti balok penadah kasau dan bumbungan, namun tidak mengganti empat tiang sebagai kolom utama. Pada 1995 juga sempat juga terjadi renovasi masjid, yaitu penggunaan semen PC pada atap masjid yang sebelumnya hanya menggunakan kerikil. Pada 1997, masjid yang tadinya beratapkan seng diganti menjadi atap nipah. Atap ini diganti setiap lima tahun sekali.
Meskipun telah mengalami beberapa kali pemindahan dan perbaikan, arsitektur inti Masjid Wapauwe tetap dipertahankan, sehingga masjid ini menjadi situs sejarah paling penting di Maluku. Masjid yang sampai hari ini masih digunakan untuk kegiatan ibadah sehari-hari ini menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia.
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Bentuknya sederhana, namun jama'ah sudah berdatangan dari penjuru desa sebelum waktu shalat tiba ...
Mungkin kita tak percaya jika tidak melihat faktanya. Seorang yang tidak kaya, bahkan tergolong miskin, namun mampu membangun sebuah Masjid di Turki.
Nama masjidnya pun paling aneh di dunia, yaitu "Shanke Yadem" (Anggap Saja Sudah Makan).
Sangat aneh bukan? Dibalik Masjid yang namanya paling aneh tersebut ada cerita yang sangat menarik dan mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita.
KISAHNYA :::
Di sebuah kawasan Al-Fateh, di pinggiran kota Istanbul ada seorang yang wara" dan sangat sederhana, namanya Khairuddin Afandi. Setiap kali ke pasar ia tidak membeli apa-apa. Saat merasa lapar dan ingin makan atau membeli sesuatu, seperti buah, daging atau manisan, ia berkata pada dirinya: Anggap saja sudah makan yang dalam bahasa Turkinya " Shanke Yadem" .
Nah, apa yang dia lakukan setelah itu? Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli keperluan makanannya itu dimasukkan ke dalan kotak (tromol)... Begitulah yang dia lakukan setiap bulan dan sepanjang tahun. Ia mampu menahan dirinya untuk tidak makan dan belanja kecuali sebatas menjaga kelangsungan hidupnya saja.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun Khairuddin Afandi konsisten dengan amal dan niatnya yang kuat untuk mewujudkan impiannya membangun sebuah masjid. Tanpa terasa, akhirnya Khairuddin Afandi mampu mengumpulkan dana untuk membangun sebuah masjid kecil di daerah tempat tinggalnya. Bentuknyapun sangat sederhana, sebuah pagar persegi empat, ditandai dengan dua menara di sebelah kiri dan kanannya, sedangkan di sebelah arah kiblat ditengahnya dibuat seperti mihrab.
Akhirnya, Khairuddin berhasil mewujudkan cita-ciatanya yang amat mulia itu dan masyarakat di sekitarnyapun keheranan, kok Khairuddin yang miskin itu di dalam dirinya tertanam sebuah cita-cita mulia, yakni membangun sebuah masjid dan berhasil dia wujudkan. Tidak banyak orang yang menyangka bahwa Khairuddin ternyata orang yang sangat luar biasa dan banyak orang yang kaya yang tidak bisa berbuat kebaikan seperti Khairuddin Afandi.
Setelah masjid tersebut berdiri, masyarakat penasaran apa gerangan yang terjadi pada Khairuddin Afandi. Mereka bertanya bagaimana ceritana seorang yang miskin bisa membangun masjid. Setelah mereka mendengar cerita yang sangat menakjubkan itu, merekapun sepakat memberi namanya dengan: "Shanke yadem" (Angap Saja Saya Sudah Makan).
...Sungguh luar biasa. Kita belajar banyak dari kesederhanaan, ketulusan dan keikhlasan Khairuddin. Beramal bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja tidak harus menjadi kaya dulu. Bahkan banyak orang yang diberikan kekayaan oleh Allah lantas menjadi lupa untuk beramal.
Harta yang digunakan Khairuddin untuk membangun masjid diperoleh dengan cara yang halal dan itulah salah satu penyebab orang senang datang ke mesjid yang dibangunnya walaupun mesjid tersebut sangat sederhana. Semoga di Indonesia akan banyak orang-orang seperti khairuddin yang beramal bukan karena ingin di puji orang akan tetapi semata-mata mengharapkan Ridho dari Allah SWT ...
Subhanallah! Sekiranya orang-orang kaya di dunia ini berfikir seperti Khairuddin, berapa banyak dana yang akan terkumpul untuk kaum fakir miskin? Berapa banyak masjid, sekolah, rumah sakit dan fasiliti hidup lainnya yang dapat dibangun? Berapa banyak infra struktur yang dapat kita realisasikan, tanpa harus meminjam ke bank dan Negara yang memusuhi Islam dan umatnya?
Jamah yang melimpah, tanda keberkahan dan amal sholeh dari harta yang halal dan bersih
Kalaulah kaum Muslimin saat ini memiliki konsep hidup sederhana dan mementingkan kehidupan akhirat dan mengutamakan istana di syurga ketimbang rumah di dunia, seperti yang dimiliki Khairuddin Afandi, pastilah umat ini mampu meninggalkan yang haram dan syubhat dalam hidup mereka. Mereka pasti mampu mengalahkan syahwat duniawi yang menipu itu. Sebagai hasilnya, pastilah negeri-negeri Islam akan berlimpah keberkahan yang Allah bukakan dari langit dari bumi. Kenyataannya adalah sebaliknya. (QS Al-A'raf / 7: 96) Maka ambil pelajaranlah wahai orang-orang yang menggunakan akal sehatnya!
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya
Note: (FJ) Dari buku "Keajaiban Sejarah Ustmani", oleh: Ust. Urkhan Mohamad Ali
Unknown
02.06.00
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Sebagian
besar masjid-masjid saat ini kita lihat kosong dari jama’ah...
Sebagai seorang yang
memeluk agama Islam maka sudah sepantasnya kita menjadikan al-Qur’an dan Hadits
Nabi sebagai pedoman hidup kita, sebagai pengatur setiap jejak langkah dan
setiap tarikan nafas dalam hidup kita.
Salah satu syariat yang
sangat agung yang diwajibkan kepada setiap muslim yaitu Shalat. Saya yakin,
anda setiap hari melaksanakannya. Saya pun yakin, anda mengetahui kalau shalat
termasuk Rukun Islam. Tapi tahukah anda bahwa bagi setiap laki-laki muslim yang
tidak memiliki udzur syar’i shalat 5 waktu itu diwajibkan dilakukan secara
berjamaah di masjid?
Pemandangan
ini hampir merata kita temui di setiap tempat, baik di desa maupun di kota.
Inilah buah dari kekurangfahaman mereka dalam ilmu syariat, khususnya yang
berkaitan dengan hukum sholat berjama’ah. Sehingga bila kita tanyakan kepada
seseorang,“Mengapa tidak sholat di masjid, kok malah sholat di rumah?”, pasti
ia menjawab, “Ah, itu kan cuma sunnah saja…” Subhanallah!!, semoga Allah SWT
memahamkan kepada kaum muslimin tentang syariat yang mulia ini.
Ketahuilah, bahwa pendapat
yang benar dalam masalah ini ialah sholat berjamaah itu wajib (bagi laki-laki,
adapun bagi kaum wanita, sholat di rumah lebih baik daripada sholat di masjid
walaupun secara berjama’ah). Inilah pendapat yang disokong oleh dalil dalil
yang kuat dan merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat dan
tabi’in, serta para imam madzhab (Kitabus Sholat karya Ibnul Qoyyim).
Keutamaan
Mengerjakan Shalat Berjama’ah Di Masjid
Berikut
ini beberapa keutamaan mendatangi shalat berjama’ah di masjid, diantaranya:
1. Mendapat naungan dari Allah subhanahu wata’ala pada hari
kiamat
Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tujuh
golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (kiamat) yang tidak
ada naungan kecuali naungan-Nya; (diantaranya) Seorang penguasa yang adil,
pemuda yang dibesarkan dalam ketaatan kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya
selalu terpaut dengan masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)
2. Mendapat balasan seperti haji
Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa
yang keluar dari rumahnya dalam keadaan berwudhu’ untuk shalat lima waktu
(secara berjama’ah di masjid), maka pahalanya seperti pahala orang berhaji yang
memakai kain ihram.” (HR. Abu Dawud no. 554, dan di hasankan oleh Asy Syaikh Al
Albani)
3. Menghapus dosa-dosa dan mengangkat beberapa derajat (Lihat
HR. Muslim no. 251)
4. Disediakan baginya Al Jannah (Lihat
H.R. Al Bukhari no. 662 dan Muslim no. 669)
5.
Mendapat dua puluh lima/dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendirian
(Lihat HR. Al Bukhari no. 645-646)
Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).
(Al-Ankabut: 45).
Kubah Masjid Al Tsunami
Banda Aceh adalah kota yang paling banyak memiliki masjid di
Indonesia. Bahkan ketika saya berada di kota-kota di Pulau Jawa semisal
Yogyakarta dan Semarang aja, jika dibandingkan dengan Banda Aceh, relatif lebih
susah nyari masjid untuk shalat dan sekedar melepas lelah di perjalanan. Kalau
di Banda Aceh, dalam radius 1 km, saya jamin ada lebih dari 1 buah masjid.
Mungkin itu sebabnya Aceh disebut sebagai Serambi Mekkah.
Ada sebuah masjid yang unik di Banda Aceh. Bukan masjid lebih
tepatnya. Tapi sebuah kubah masjid. Sebuah kubah
masjid yang menjadi saksi bisu kedahsyatan musibah tsunami beberapa tahun yang
lalu. Menurut yang saya baca di sebuah media online, kubah masjid ini terlepas
dari bangunan asalnya dan terhempas sejauh 2,5 km dari tempat semula akibat
gelombang tsunami. Uniknya, kubah masjid ini tetap kokoh berdiri di atas tanah
sampai sekarang, masih seperti posisi semula sejak akhir tahun 2004. Dan di
depan gerbang masuk kubah masjid ini tertulis “Monumen Kubah Masjid
Al Tsunami”.
Awalnya saya mengetahui tentang kubah ini adalah dari sebuah
gambar kalender yang ada di meja kantor milik seorang kawan. Setelah bertanya
sama beberapa kawan yang asli orang Aceh, ternyata banyak yang belum tahu juga
tempat kubah ini berdiri. Karena penasaran, maka saya mencoba untuk mencari
sendiri. Berbekal sebuah gambar dengan setting persawahan dan perbukitan,
awalnya saya mengira kubah tersebut ada di daerah Ulee Kareng, sekitar jalan ke
arah Indrapuri, atau di sekitar jalan ke arah Lhok Nga, yang memang banyak
daerah persawahan. Kalau Ulee Kareng dan sekitar Indrapuri saya tidak yakin.
Karena kedua daerah tersebut tidak terkena gelombang tsunami. Maka, saya
mencoba untuk mencari sendiri ke daerah sekitar jalan ke arah Lhok Nga. Memakai
sepeda motor saya muter-muter daerah sekitar situ. Lalu saya melihat setting
bukit dan sawah yang mirip sekali dengan gambar. Saya hampiri bukit itu dengan
masuk ke jalan-jalan kecil. Dan ternyata tidak susah menemukan bangunan kubah
tersebut.
Bangunan kubah tersebut tepatnya berada di Gampong Gurah,
Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Tidak jauh dari kota Banda Aceh. Bagi
kawan-kawan yang belum tau dimana letaknya, saya coba disini memberikan
gambaran. Dari Banda Aceh kita menuju ke Ulee Lheue. Sampai depan masjid Ulee
Lheue kita belok ke kiri ke arah Peukan Bada. Amati jalan sebelah kanan, dan
belok ke kanan pas di jalan ke Polsek Peukan Bada. Ikuti jalan tersebut lurus
sampai mentok. Kalo gak salah disitu ada sebuah TK, dan dari TK tersebut
arahkan pandangan kawan-kawan ke hamparan sawah di samping TK tersebut.
Disanalah berdiri kokoh kubah masjid Al Tsunami ini.
Saya sudah beberapa kali kesana, bahkan ketika ada waktu luang
saya beberapa kali naik sepeda kesana. Terakhir kali kesana sih semakin terawat
tempatnya. Akses jalan menuju ke tengah sawahnya sedang diperbaiki waktu itu.
Moga aja sih kedepannya situs bersejarah ini lebih mendapat perhatian. Coba aja
di depan jalan dekat Polsek Peukan Bada itu diberi petunjuk jalan dengan arah
panah tentang letak kubah masjid ini, pasti tidak sulit untuk wisatawan
menemukan kubah ini. Sayang, tidak ada petunjuk apa-apa. Bagi wisatawan yang
bukan dari Aceh saya rasa cukup kesulitan menemukan lokasinya.
Saya suka dengan kubah masjid ini.
Seperti mengingatkan saya tentang kebesaran Allah SWT. Mengingatkan tentang
betapa dahsyatnya musibah tsunami. Ketika mengunjungi kubah masjid ini,
seketika semakin bertambah rasa syukur saya.
Apakah kawan-kawan sudah pernah mengunjungi kubah masjid Al
Tsunami ini? Ada yang tahu kah bangunan asli tempat kubah masjid ini menempel
dulunya dimana kawan? Jujur, saya sangat penasaran sama bangunan asli masjidnya
yang terhempas tsunami. Sejauh saya blogwalking atau googling, masih belum
banyak tuh yang menulis tentang sejarah ataupun tentang cerita situs tsunami
ini..












.jpg)















